February 16, 2013

Pencerdasan Isu-Isu Pertanian Startegis Bagi Mahasiswa Sebagai Kontribusi untuk Pertanian Indonesia
Indonesia, sebuah negara yang tersohor dengan julukan negara agraris , zamrud khatulistiwa membentang dari ujung Sumatera hingga ujung Papua. Sebagaian besar penduduknya adalah bermata pencaharian sebagai petani, lahan pertanian yang luas dan subur, serta para petani yang ahli dalam bercocok tanam. Swasembada beras pada tahun 1984-1989 memiliki implikasi besar terhadap kemajuan bangsa. Indonesia dapat memenuhi pasokan beras nasional tanpa bergantung dengan negara lain. Dahulu , itu semua yang dirasakan rakyat Indonesia namun sekarang semuanya berbanding terbalik. Rakyat Indonesia banyak yang terampas haknya , karena ketidakadilan yang ada.
Dibalik megahnya Gedung Anggota Dewan ternyata tersimpan duka yang dirasakan rakyat Indonesia. Kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat , petani menjerit kesakitan akibat mahalnya sarana dan prasarana produksi pertanian, lahan pertanian yang semakin menyempit akibat konversi lahan , dan masih banyak lagi ketidak adilan yang dirasakan mereka. Permasalah-permasalah yang melanda pertanian kita saat ini antara lain ketersediaan lahan untuk pertanian , produktivitas lahan yang masih rendah dan produksi tanaman pangan yang mengalami levelling off, lemahnya kelembagaan penyuluhan dan kelembagaan petani, sistem agribisnis yang belum berfungsi dengan baik, kebijakan makro yang sering kurang memihak sektor pertanian (fiskal, ekspor, impor, perpajakan, industri, perdagangan), akses petani dan sebagian besar pelaku usaha pertanian kecil dan menengah dalam pemanfaatan IT (teknologi informasi), dan terhadap pasar nasional, regional dan global masih sangat terbatas, ketergantungan tinggi pada beras, konsumsi beras per kapita tinggi (139 kg/kapita/tahun) dan usaha diversifikasi beras masih belum berhasil, pendapatan rata-rata petani lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat perkotaan, jaminan penyediaan pangan dari produksi dalam negeri menurun, dan adanya masalah lingkungan karena aktivitas pertanian yang tidak ramah lingkungan.
Untuk itu akan kita break-down satu per satu permasalahan ini dimulai dari permasalahan yang pertama yaitu luas lahan pertanian semakin sempit, luas lahan yang tersedia tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk Inodenesia, konversi lahan menjadi gedung-gedung bertingkat , daya dukung lahan yang menurun akibat degradasi lahan , dan lain-lain. Permasalahan yang kedua yaitu produktivitas lahan yang masih rendah disebabkan oleh kurang berkembangnya teknologi budidaya modern , belum optimalnya terobosan teknologi untuk pemanfaatan lahan-lahan dengan cekaman lingkungan abiotik tinggi pada skala luas, rusaknya infrastruktur pertanian seperti irigasi, jalan usahatani, sumber energi (listrik), sarana komunikasi dan lainnya, pemalsuan benih, pupuk dan pestisida, ramalan cuaca yang kurang efektif, sera bencana alam banjir dan kekeringan. Permasalahan yang ketiga lemahnya kelembagaan penyuluhan dan kelembagaan petani diakibatkan oleh prinsip dari program penyuluhan adalah bersifat top-down , transfer teknologi, dan tidak berbasiskan kearifan lokal, pemerintah hanya memfokuskan diri pada production center development . Pendekatan ini bersifat eksploitatif, tidak adanya partoisipasi dari petani dalam merenacanakan program, dan tidak didasarkan pada kebutuhan petani setempat, seharusnya pemerintah memberikan otonomi kepada pemerintah daerah ataupun petani setempat dalam merencanakan program agar program tersebut tepat sasaran. Permasalahan yang ketiga adalah sistem agribisnis yang belum berfungsi dengan baik dibuktikan dengan pengolahan hulu dan hilir yang kurang maksimal. Permasalahan yang ketiga adalah kebijakan makro yang sering kurang memihak sektor pertanian (fiskal, ekspor, impor, perpajakan, industri, perdagangan) hal ini disebabkan oleh insentif ekspor beras lebih banyak mendapatkan keuntungan daripada produksi sendiri dan yang menikmati hal itu hanyalah pihak-pihak tertentu, biaya produksi yang mahal bagi petani, dll. Permasalahan yang keempat yaitu akses petani
dan sebagian besar pelaku usaha pertanian kecil dan menengah dalam pemanfaatan IT (teknologi informasi) pencanganan program berbasis teknologi haruslah dikaji ulang karena pengetahuan dari petani dan pengusaha kecil belum siap untuk menerima hal itu, perubahan akan teknologi memanglah sangat cepat, namun perubahan tersebut harus diimbangi dengan pengetahuan yang kuat agar nantinya tidak salah sasaran. Permasalahan yang kelima yaitu sebagian rakyat Indonesia mengalami ketergantungan pada beras . Bahkan ada ungkapan bahwa “belum makan, jika belum makan nasi” hal ini seakan telah membudaya bagi sebagian orang. Oleh suku Jawa misalnya, mereka dinilai memilki tingkat kemapanan yang tinggi jika dalam kehidupan sehari-hari dia makan nasi. Peramasalahan yang keenam adalah pendapatan rata-rata petani lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat perkotaan hal itu sebabkan oleh budaya kemiskinan yang ada di pedesaan , mereka mengangap bahwa dengan pengahasilan yang rendah orang-orang di pedesaan sudah merasa cukup, namun untuk orang-orang diperkotyaan dengan penapatan yang sama dengan pendapatan orang desa mereka belum bisa untuk memenuhi kebutuhannya. Permasalahan yang ketujuh yaitu jaminan penyediaan pangan dari produksi dalam negeri menurun bahkan pemerintah melakukan import untuk mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya. Dan permasalahan yang terakhir adalah adanya masalah lingkungan karena aktivitas pertanian yang tidak ramah lingkungan, penggunaan pestisida yang menyebabkan degradasi lahan dan menurunkan kadar kesuburan tanah.
Melihat fenomena yang ada sekarang ini, apakah kita sebagai mahasiswa pertanian hanya bisa berdiam diri ? langkah apa yang akan kita lakukan ?. Mahasiswa sebagai agent of change dalam merubah keadaan yang ada , haruslah memiliki kemampuan dan update tentang permasalahan yang ada . Realita yang ada sekarang , mahasiswa pertanian cenderung apatis dalam menanggapi permasalahan pertanian. Mereka terlalu sibuk untuk mengurusi hal-hal yang mementingkan diri sendiri, yang ada hanyalah urusan akademiknya. Mereka lalai mengenai tanggung jawab yang dipikulnya sebagai wakil dari rakyat Indonesia, yaitu pengabdian masyarakat. Bahkan, untuk minat untuk mengetahui isu-isu tentang pertanianpun sudah tidak ada lagi, mungkin hanya sebagian mahasiswa saja yang masih ada hasrat untuk mengetahui isu-isu tersebut. Maka dari itu , harus ada sebuah pencerdasan dengan cara yang kreatif agar mahasiswa berminat untuk mengetahui isu-isu pertanian strategis . Isu – isu pertanian strategis haruslah dipackage dengan yang yang unik dan kreatif agar mereka tertarik untuk mengetahuinya. Pemanfaatan media sosial, elektronik, dan juga cetak harus dimaksimalkan untuk mem-boomingkan isu-isu tersebut. Seperti halnya, ada suatu badan dari lembaga kemahasiswaan yang bertugas untuk selalu mengupdate isu-isu pertanian yang ada misalnya melalui media-media sosial sehingga mahasiswa akan mudah dalam mengaksesnya informasi. Selain melalui media-media sosial, maka kita juga bisa memaksimalkan pencerdasan isu-sisu tersebut lewat tulisan-tulisan propaganda yang dibagikan kepada mahasiwa. Pemanfaatan radio dan televisi kampus juga dapat dimaksimalkan dengan adanya rubrik isu-isu pertanian terkini. Semakin banyak media yang digunakan dalam pencerdasan maka semakin banyak mahasiswa yang terdedah informasi.
Hal seperti itu, pencerdasan isu-isu pertanian pada aspek kognitif (pengetahuan). Disini akan coba dipaparkan mengenai pencerdasan isu-isu pertanian dalam aspek penerapan yaitu melalui perlombaan – perlombaan yang diadakan kampus untuk mencari solusi atas pertanian yang ada . Bentuk-bentuk insentif dari perlombaan ini dapat menarik mahasiswa agar bersedia mengikutinya. Perlombaan tersebut harus menjadi penghargaan bergengsi di tingkat kampus pertanian. Dengan melakukan pencerdasan isu-isu pertanian dalam aspek kognitif maupun terapan , mahasiswa dapat berkontribusi untuk permasalahan pertanian yang ada. Sehingga kita akan kembali kepada kodrat kita sebagai mahasiswa pertanian.

Filed in Uncategorized at 11:15 am

no comments

Juli 2011

October 5, 2011

Juli 20011,

kulangkahkan kaki dengan mantap ke sebuah terminal dikotaku. sebuah kota dengan selogan ” Pati Bumi Mina Tani”. berangkat menuju kota perantauan, untuk ” ngangsu kawruh “.
di malam sebelum ini, hatiku seperti tercabik dan teriris. bagaimana tidak , aku harus meninggalkan seperangkat keluarga yang telah membuatku seperti ini. keluarga yang sebenarnya tidak sanggup membiayaiku. lantas aku di biayai siapa ? jerit hatiku.

ketika itu , mas ku datang dan memberi secercah harapan. dia mungkin adalah pahlawan ke tiga setelah bapak dan ibuk dalam hidupku. dia yang akan membiayai studiku  di kampus rakyat ini. yah, Institus Pertanian Bogor ini adalah tempatku untuk ngangsu kawruh, aku sangat menggantungkan hidupku disini. berharap 4 tahun ke depan , aku akan membangun perekonomian negeri ini.

salam juang dari ncisku.

peluk dan cium untuk para sahabat terbaik.

Filed in Uncategorized at 5:03 am

no comments

Hello world!

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Filed in Uncategorized at 4:34 am

2 comments